Agak kesiangan, berangkatnya, tapi pagi itu (menjelang siang), saya sampai juga di kawasan Lapangan Banteng. Dari Abadi naek Kopami Jaya ke Senen, terus naek lagi KOPAJA 20 ke Lapangan Banteng.
Saya sempatkan berkeliling Lapangan Banteng sambil melihat-lihat kompleks kementerian yang ada di sekitar lapangan itu. Ada kementerian agama, juga kementerian keuangan. Di dalam area lapangan sendiri banyak anak-anak sekolahan yang sedang praktek pelajaran olahraga. Dan sekeliling lapangan banyak terparkir bus serta beberapa sopir nongkrong di warung, pinggir lapangan itu.
Setelah selesai satu putaran, saya kembali ke kompleks kementerian keuangan. Kepada satpam, saya tanyakan letak gedung AA Maramis II. Di sana tempat Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan, terletak di lantai 2. Sebelum masuk, saya menyerahkan KTP ke resepsionis, dan diberi kartu tanda pengunjung. Lalu saya naik ke lantai 2, dan masuk ke ruang penerimaan tamu LPDP.
Sambil menunggu mbak yang sedang menjelaskan perihal beasiswa kepada tamu yang sudah datang lebih dulu, saya siapkan beberapa hal untuk bahan pertanyaan. Setelah tiba gilirannya, terlebih dahulu saya meminta brosur LPDP dan bertanya banyak tentang program beasiswa tersebut. Ternyata yang mendaftar lumayan banyak, untuk yang tahap kemarin saja, tercatat mencapai 900 pelamar beasiswa. Wah! banyak juga saingannya. Dan proses seleksi yang meliputi 4 tahap itulah menjaring pelamar yang benar-benar layak mendapatkan beasiswa.
Menurut orang-orang yang sudah berpengalaman sebelumnya, bagi yg gagal di tahap 1-3, bisa mendaftar lagi. Namun, bagi yang gagal di tahap 4, direkomendasikan agar tidak mendaftar lagi. Ketika saya tanyakan masalah itu, petugasnya menerangkan bahwa setiap pelamar di tahap 4 akan melewati uji psikologis dan kepribadiannya dinilai oleh tim penguji. Hasil penilaian itu, kalau berdampak pada kegagalan di tahap final tersebut, tidak akan berubah walaupun si pelamar yang gagal tadi mendaftar lagi dan mengikuti proses seleksi dari awal. Karena nilai watak "kepemimpinannya" oleh penguji sudah masuk kriteria tidak lulus, dan sikap para penguji terhadap orang itu tidak berubah. Jadi, daripada membuang waktu, direkomendasikan untuk tidak mendaftar lagi.
Setelah mendapatkan banyak informasi, saya undur diri dan keluar dari kantor LPDP. Turun ke lantai 1, saya mengembalikan kartu tanda pengunjung dan mengambil kembali KTP saya. Sebelum keluar, saya tanyakan letak kantor OJK dan petugas menunjukkan arah ke gedung yang dimaksud.
Keluar dari gedung AA Maramis II saya bergegas ke kantor OJK. Ke bagian resepsionisnya, saya sampaikan niat saya untuk menanyakan informasi seputar kegiatan IFN Forum yang akan diselenggarakan di Hotel ShangriLa, Jakarta, bulan depan. Resepsionis tidak tahu acara yang dimaksud, dan tidak tahu juga kalau OJK sebagai salah satu penyelenggara, selain beberapa institusi bank syariah terkemuka.
Maka saya diberi saran untuk bertanya ke bagian humas. Setelah coba dihubungi, ternyata staff yang dimaksud tidak ada di tempat, dan jawaban resepsionis "mungkin sedang keluar, sebab sekarang jam istirahat". Saya diminta menunggu di tempat yang disediakan dan diusahakan jam 1 siang itu bisa segera bertemu dengan bagian humas.
Karena sudah masuk waktu dhuhur, saya menuju musholla, mengambil air wudhu dan ikut jamaah sholah dhuhur dengan bapak-bapak pegawai kemenkeu. Setelah itu, kembali ke ruang tunggu dan melanjutkan prosesi "menunggu".
Tanpa sadar, karena duduk di sofa empuk dan dihembusi semilir AC, saya pun mengantuk dan tertidur. Karena agak lama, sampai dibangunkan oleh satpam yang lewat. Wah, kaget juga, kalau malu sih, enggak, karena itu cuma ruang tunggu biasa, jarang pula orang lalu lalang, dan seperti biasa, di kota ini, semua lebih memilih cuek.
Saya tanyakan kembali ke resepsionis, dan jawabannya masih sama. "Belum ada jawaban dari staff humas". Akhirnya mbak resepsionis itu menyarankan agar saya langsung mendatanginya saja di lantai 2. Setelah menyerahkan KTP, saya diberi kartu tanda pengunjung dan menuju ke arah pemeriksaan. Tapi petugas jaga tidak membolehkan saya lewat, karena saya tidak memakai sepatu. Jadi saya kembalikan kartu tanda pengunjung, ke mbak resepsionis yang serba salah, sudah menyarankan untuk ke lantai 2, tanpa melihat saya memakai sepatu atau tidak.
Saya mengambil kembali KTP dan mengatakan mungkin akan kembali dengan menggunakan sepatu,,,,,,,,,
Pengetahuan tidak berarti apa-apa tanpa memperbaharui pemikiran setiap hari (Albert Einstein)
Tampilkan postingan dengan label Senen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Maret 2014
Kamis, 27 Februari 2014
Latumenten Bikin Kecele, Salemba Buat Kepengen
Selepas dhuhur, bertolak dari kosan ke halte Grogol. Naek busway yg ke Stasiun Latumenten, Grogol, Sampe di halte St. Latumenten, ane bingung, coz ga tau posisi stasiunnya di mana. Abis nanya petugas busway, langsung menuju tempat yang dimaksud. OMG ! ternyata tuh stasiun cuma buat nurunin penumpang doang. Wah, persepsi yg keliru, arah yg keliru, pengaruh bgt wat perjalanan, tapi ga papa, buat pengalaman aja. Kesalahpahaman khan bisa jadi suatu pemahaman baru, ya ga sob ?.
Langsung balik ke halte latumenten ( yah, bayar lagi dech,,,,). Nanyain yg ke jurusan kota, disaranin turun di halte penjaringan aja, coz shelter Latumenten cuma lewat koridor Pinang Ranti - Pluit ( aduh,,,,alamat multi transit neh,,,,). Dari penjaringan ke Harmoni Central Busway, sampe d sana bingung, mo ambil jurusan mana, coz masih ngincer perjalanan via commuter line, nyari stasiun yg kelasnya ga separah St. Latumenten ( maksudnya bisa beli tiket n naikin penumpang, bukan nurunin aja ). Saking bingungnya ambil yg ke arah Grogol ( loh kok balik lagi ? inilah,,,,,bentuk kebodohan atau keanehan yg nyata,,,,,,,,tapi indah,,,,hehehe).
Rencananya sih dari Grogol mw ambil yg ke Senen or Gambir, tapi pas di Grogol berubah pikiran. (Nah lo, plin-plan,,,hehehe). Dah mendekati sore, klo maksain via commuter line, kaya'nya nanggung. Ya udah, mutusin ke Salemba pake busway aja, bismillah ( nah, gitu kek dari tadi, biar ga capek n buang duit). So, ambil lagi yg ke Harmoni, Ikut antrian yg ke arah PGC.
Kejadian yg membuat berdebar-debar tiba-tiba tersaji. Dengan antrian panjang n calon penumpang yg pengen naek berjubel, seperti biasa pada rebutan masuk busway. Pas udah keliatan sesak banget ( hehehe sesak aja udah susah, apalagi ditambah banget ), petugas bilang cukup, nt pintu mulai tertutup secara otomatis sembari bus bergerak maju perlahan. Tiba2 di pintu belakang, seorang bapak yg ada di dalam busway berusaha nerobos keluar memanfaatkan celah pintu yg lom sempurna ketutup. Badan dah keluar, kaki dah nginjek lantai halte, tapi tasnya masih nyangkut di pintu yg skrg dah ketutup. Bisa dibayangkan tangan yng tersangkut tas, buat badan bapak itu terseret, n kakinya ga sampai ke lantai halte malah menggapai udara. Semua yg ada di halte pada ngeri ngeliatnya, untung supir busway, langsung ngerem, jadi si bapak ga terseret, cuma tergeletak di aspal aja. N untungnya juga, bapak ini, tergolong laki2 yg jagoan n ga cengeng, hehehe. Buktinya abis jatuh dia langsung bangkit kembali wat lanjutin perjalanan. " Ga, kok, saya ga apa-apa", kata bapak jagoan itu. Tapi tetep aja beliau diceramahin orang banyak, "wah, pak, hati-hati dong, jangan nekat, n sembarangan gitu, bahaya tau", itu kurang lebih kritikan mereka, n si bapak menerima dg lapang dada, hmm,,,,,jagoan khan ?. Mbak petugas busway nambahin " lain kali jangan diulangi ya pak", hahaha untuk yg ini, tiba-tiba memberikan kesan sprti ngingetin anak kecil yg nakal aja, yg mau ga mau anak yg menurut mesti ngejawab " iya" sambil pasang wajah tertunduk simbol "kekhilafan".
Sampe di halte Salemba, langsung turun n menuju ke kampus UI yg ternyata deket dari halte. Langsung ke Masjid Arif Rahman Hakim wat sholat Ashar. Abis tu nekat masuk ke kompleks kampusnya. Nah, ini susahnya klo ga da hape. Ga bisa kontak temen. Tadinya sih rencana ke Salemba cuma wat ketemu Abdul Aziz, sobat ane dari Depok. tapi ya karena ga bisa ngontak, jadi maen feeling aja. Kalo ketemu betulan, ya, ajaib tuh.
Langsung nanya ke satpam gedung tempat kuliah pasca yg ekonomi di mana. Abis ditunjukin, langsung ke TKP. Tapi, tetep aja bingung, coz banyak komplek, banyak ruangan. Ketemu lapak, beli koran BOLA dulu. Truz duduk di bangku depan kelas komplek pasca jur ekonomi sambil baca BOLA. Tapi lagaknya kaya mata-mata, sebentar2 liat org2 yg lewat, kalo2 itu Aziz. Tapi dah hampir maghrib, ga ada juga.
Yang berkesan pas beli koran di lapak, sekalian nanyain penjualnya tentang ruang kuliah pasca yg ekonomi, eh malah si penjual balik nanya " mau ambil kuliah s2 di sini ya ?". wah, wah pertanyaannya itu bikin gimana gitu. Ditambah lagi aura lalu lalang mahasiswa, mahasiswi, dosen dg buku2, kumpul2 di taman, nongkrong di kafe kampus, n pemandangan2 yg bikin ane kangen kuliah, tapi masih lom bisa ngerasain lagi bangku kuliah, coz masih berjuang ke arah sana.
Shalat maghrib jamaah di Masjid Arif Rahman Hakim, dg warga kampus, suasanya syahdu banget. Ini nih mantep, ilmiah, juga religius. siiip.
Karena lom ketemu juga, akhirnya ane putusin balik ke kos, ambil rute ke Harmoni truz ke arah Kalideres, turun di halte Jelambar. Jalan kaki k kosan, huaah,,capek, istirahat dulu deh, Nyiapin tenaga. Soalnya besok khan mau ke Istora, ada Book Fair di sana.
Langsung balik ke halte latumenten ( yah, bayar lagi dech,,,,). Nanyain yg ke jurusan kota, disaranin turun di halte penjaringan aja, coz shelter Latumenten cuma lewat koridor Pinang Ranti - Pluit ( aduh,,,,alamat multi transit neh,,,,). Dari penjaringan ke Harmoni Central Busway, sampe d sana bingung, mo ambil jurusan mana, coz masih ngincer perjalanan via commuter line, nyari stasiun yg kelasnya ga separah St. Latumenten ( maksudnya bisa beli tiket n naikin penumpang, bukan nurunin aja ). Saking bingungnya ambil yg ke arah Grogol ( loh kok balik lagi ? inilah,,,,,bentuk kebodohan atau keanehan yg nyata,,,,,,,,tapi indah,,,,hehehe).
Rencananya sih dari Grogol mw ambil yg ke Senen or Gambir, tapi pas di Grogol berubah pikiran. (Nah lo, plin-plan,,,hehehe). Dah mendekati sore, klo maksain via commuter line, kaya'nya nanggung. Ya udah, mutusin ke Salemba pake busway aja, bismillah ( nah, gitu kek dari tadi, biar ga capek n buang duit). So, ambil lagi yg ke Harmoni, Ikut antrian yg ke arah PGC.
Kejadian yg membuat berdebar-debar tiba-tiba tersaji. Dengan antrian panjang n calon penumpang yg pengen naek berjubel, seperti biasa pada rebutan masuk busway. Pas udah keliatan sesak banget ( hehehe sesak aja udah susah, apalagi ditambah banget ), petugas bilang cukup, nt pintu mulai tertutup secara otomatis sembari bus bergerak maju perlahan. Tiba2 di pintu belakang, seorang bapak yg ada di dalam busway berusaha nerobos keluar memanfaatkan celah pintu yg lom sempurna ketutup. Badan dah keluar, kaki dah nginjek lantai halte, tapi tasnya masih nyangkut di pintu yg skrg dah ketutup. Bisa dibayangkan tangan yng tersangkut tas, buat badan bapak itu terseret, n kakinya ga sampai ke lantai halte malah menggapai udara. Semua yg ada di halte pada ngeri ngeliatnya, untung supir busway, langsung ngerem, jadi si bapak ga terseret, cuma tergeletak di aspal aja. N untungnya juga, bapak ini, tergolong laki2 yg jagoan n ga cengeng, hehehe. Buktinya abis jatuh dia langsung bangkit kembali wat lanjutin perjalanan. " Ga, kok, saya ga apa-apa", kata bapak jagoan itu. Tapi tetep aja beliau diceramahin orang banyak, "wah, pak, hati-hati dong, jangan nekat, n sembarangan gitu, bahaya tau", itu kurang lebih kritikan mereka, n si bapak menerima dg lapang dada, hmm,,,,,jagoan khan ?. Mbak petugas busway nambahin " lain kali jangan diulangi ya pak", hahaha untuk yg ini, tiba-tiba memberikan kesan sprti ngingetin anak kecil yg nakal aja, yg mau ga mau anak yg menurut mesti ngejawab " iya" sambil pasang wajah tertunduk simbol "kekhilafan".
Sampe di halte Salemba, langsung turun n menuju ke kampus UI yg ternyata deket dari halte. Langsung ke Masjid Arif Rahman Hakim wat sholat Ashar. Abis tu nekat masuk ke kompleks kampusnya. Nah, ini susahnya klo ga da hape. Ga bisa kontak temen. Tadinya sih rencana ke Salemba cuma wat ketemu Abdul Aziz, sobat ane dari Depok. tapi ya karena ga bisa ngontak, jadi maen feeling aja. Kalo ketemu betulan, ya, ajaib tuh.
Langsung nanya ke satpam gedung tempat kuliah pasca yg ekonomi di mana. Abis ditunjukin, langsung ke TKP. Tapi, tetep aja bingung, coz banyak komplek, banyak ruangan. Ketemu lapak, beli koran BOLA dulu. Truz duduk di bangku depan kelas komplek pasca jur ekonomi sambil baca BOLA. Tapi lagaknya kaya mata-mata, sebentar2 liat org2 yg lewat, kalo2 itu Aziz. Tapi dah hampir maghrib, ga ada juga.
Yang berkesan pas beli koran di lapak, sekalian nanyain penjualnya tentang ruang kuliah pasca yg ekonomi, eh malah si penjual balik nanya " mau ambil kuliah s2 di sini ya ?". wah, wah pertanyaannya itu bikin gimana gitu. Ditambah lagi aura lalu lalang mahasiswa, mahasiswi, dosen dg buku2, kumpul2 di taman, nongkrong di kafe kampus, n pemandangan2 yg bikin ane kangen kuliah, tapi masih lom bisa ngerasain lagi bangku kuliah, coz masih berjuang ke arah sana.
Shalat maghrib jamaah di Masjid Arif Rahman Hakim, dg warga kampus, suasanya syahdu banget. Ini nih mantep, ilmiah, juga religius. siiip.
Karena lom ketemu juga, akhirnya ane putusin balik ke kos, ambil rute ke Harmoni truz ke arah Kalideres, turun di halte Jelambar. Jalan kaki k kosan, huaah,,capek, istirahat dulu deh, Nyiapin tenaga. Soalnya besok khan mau ke Istora, ada Book Fair di sana.
Labels:
Arif Rahman Hakim,
ekonomi,
Gambir,
Grogol,
Harmoni,
Latumenten,
pascasarjana,
Salemba,
Senen,
Universitas Indonesia
always try to be better
Langganan:
Postingan (Atom)