Saya tidak tahu lagi analogi apa yang lebih tepat untuk menyebutnya. Apa saja itu ?
Pertama, Pembimbing Siswa Akhir.
Ketika Masih di Gontor dulu, saya punya sedikit harapan untuk dapat menjadi pembimbing siswa akhir. Mengapa ? Untuk apa ? Apa karena PGnya ? Supaya dapat pamor tinggi ?. Wah, kalau cuma untuk dapat pamor tingggi, tidak usah capek-capek jadi musyrif siswa akhir. Mending jadi artis saja, ya toh ?
Tentu saja bukan untuk hal-hal semacam itu. Sebab menjadi pembimbing kelas akhir menjanjikan banyak pengalaman. Bukan hal baru kalau dinamika kesantrian tingkat akhir sangat tinggi. Karena yang dibina adalah calon guru. Jelas perlu pembekalan yang lebih, serta pengawalan ekstra.
Nah, keinginan menjadi pembimbing siswa akhir itulah yang sempat mendorong saya untuk sengaja menunda wisuda saarjana menjadi lebih lambat setahun. Tapi, atas desakan teman sekelas, niat itu saya urungkan. Sehingga wisuda jadi tepat waktu, meskipun dengan nilai pas-pasan. Kemungkinan, setelah karantina para sarjana, saya dipindahtugaskan ke tempat lain. Keputusan yang otomatis membuyarkan harapan menjadi pembimbing siswa akhir.
Pirasat itu terjadi juga akhirnya. Bapak pimpinan memindahtugaskan saya ke tempat lain. Harapan benar-benar pupus. Karena secara status dan struktur, tidak lagi sebagai pengajar di Gontor. Walaupun pemindahtugasan itu tidaklah jauh, hanya ke desa seberang. Dan bisa saja saya sering-sering nimbrung dalam forum teman-teman pembimbing siswa akhir. sok dekat, sok sibuk, dan sok-sokan lainnya, yang di ma'had populer dengan istilah "yahanu".
Nasib baiknya, karena saya hanya dipindahtugaskan ke desa seberang, sempat dilibatkan dalam tahap awal latihan Panggung Gembira. Pada malam latihan perdana, terdorong rasa kangen, saya jalan kaki ke kompleks latihan di Gedung Robithoh. Disambut hangat oleh teman-teman satu angkatan. Saling bertanya kabar dan senda gurau seperti biasanya. Lalu berkeliling ke kelas-kelas tempat latihan per acara. Sampai di sebuah kelas, terpampang kertas di pintu bertuliskan "Tari Aceh, Pembimbing : Al-Ustadz Muhammad Pemuka Nitigama, Kamar : Al-Muqoddasah".
Melihatnya, saya tersanjung. Tidak mengira, saya bakal dilibatkan. Saking senang dan semangatnya langsung sibuk masuk ke ruang kelas yang jadi tempat latihan itu. Menanyakan siapa penanggungjawab acaranya, bagaimana rencana latihannya, bagaimana konsep, sampai gebrakan apa yang akan dihadirkan nantinya.
Beberapa hari selanjutnya, jadi lumayan rajin berkunjung, melihat anak-anak latihan. Tapi kegamangan mulai muncul. Teringat sebentar lagi di Ma'had juga ada acara pentas seni, bertajuk Gebyar Seni Ma'had Al-Muqoddasah yang biasa disingkat GSM. Mau tidak mau harus terjun, all-out juga di acara ini.
Mulailah, fokus terbagi. Menjadi jarang berkunjung ke PG, sampai pada akhirnya tidak pernah menunjukkan kaki di kompleks latihan. Anak-anak terbengkalai. Sampai koordinator pembimbing PG menanyakan atau lebih tepatnya mempertanyakan kesediaan saya membimbing acara yang dimaksud.
Setelah berpikir panjang, menimbang, mengenai latihan Tari Aceh yang terbengkalai. Belum lagi gladi perdana yang segera digelar dalam waktu dekat, saya memutuskan untuk melepas posisi sebagai pembimbing. Sekaligus meminta diganti dengan yang lain. Dengan berat hati tentunya. Karena harus fokus ke latihan GSM.
Sampai dengan acara PG dihelat, sepanjang masa latihan, saya hanya datang setiap gladi di depan Gedung Laboratorium. Dan ketika PG digelar, bersyukur juga bisa membantu teman-teman pembimbing, walau cuma menemani menjaga proyektor mapping di Gedung Aligarh lantai 2 sebelah barat. Biarpun pekerjaan sepele, urusan menjaga proyektor ini penting. Sebab, alat yang menembakkan cahaya ke background acara itu menjadi teknologi unggulan dalam pagelaran kali ini. Dan juga menjadi terobosan baru karena merupakan kali pertama digunakan untuk acara ini.
Fokus di GSM, melepas "Tari Aceh" di PG, saya diamanati membimbing acara koor/paduan suara. Alhamdulillah, bisa mengantarkan anak-anak sampati tampil di atas panggung walaupun bukan ahli tarik suara. Bantuan dari rekan Fikri Ramadhan yang memang lebih ahli sangat berarti banyak.
Selepas rentetan acara 20 tahun, kegiatan ma'had kembali stabil. Salah satu fokusnya, adala pembinaan siswa akhir, meliputi kelas 9 ( kelas 3 SMP ) dan kelas 12 (kelas 3 SMA). Tanpa diduga, Dewan Pengasuhan Santri menunjuk saya dan Al-Ustadz Ahmad Fikri Adan untuk menjadi pembimbing mereka.
Tidak tahu harus bereaksi apa ? Senang ? Kesal ? Bingung ?. Yang jelas, seperti yang diajarkan dulu, masih tetap menggenggam semboyan "pantang menolak tugas". Jadilah kami berdua menjadi teman mereka selama semusim. Alhamdulillah, dapat mengantarkan generasi yang mempunyai nama elegan, "RAVENCLAD", itu sampai akhir perjalanan mereka.
Jadi, membimbing siswa akhir, seperti do'a yang meleset ?
Kedua, mengajara pelajaran "Durusul Lughoh".
Dulu, melihat asatidz yang berteriak penuh semangat di depan kelas, mengajarkan pelajaran tamrin lughoh, jadi punya keinginan juga untuk jadi pengajar untuk pelajaran tersebut.
Tapi, itu hanya dapat terwujud bilamana ditunjuk jadi wali kelas 1 atau 1 Intensif (Tamrin Lughoh Jilid 1). Sepertinya dengan sederet kasus pelanggaran dan reputasi yang terlanjur buruk di mata pimpinan, sulit rasanya harapan itu terwujud.
Jangankan ditunjuk jadi wali kelas 1 atau 1 intensif. Jadi wali kelas saja masih diragukan. Kalaupun ditunjuk dan diberi amanat, tentulah nama saya diberi tanda kurung, tanda petik yang di dalamnya berbunyi : dalam pengawasan, dalam pantauan, percobaan, dan sejenisnya.
Ketika bertugas di tempat yang baru, diamanati juga mengajar di SMP dan SMA-nya. Dan ternyata mendapat kesempatan mengajar pelajaran Bahasa Arab. Buku yang dipakai ? Tamrin Lughoh jilid 1.
Wah, seperti mimpi yang jadi nyata. Langsung bersemangat menyusun program ajar. Terlebih ketika di dalam kelas, di depan santri-santri, berteriak-teriak menyampaikan pelajaran penuh antusias. Menagih pekerjaan rumah mereka. Mengevaluasi latihan, tertawa sendiri saat melihat kesalahan-kesalahan yang aneh. Sungguh pengalaman yang berharga.
Jadi, mengajar Tamrin Lughoh seperti do'a yang meleset ?
Hikmah yang bisa dipetik, harus tetap optimis dan berprasangka baik terhadap Allah, Sang Pencipta. Dia selalu menempatkan hamba-Nya di tempat yang terbaik. Percaya !.
Bermimpilah ! Dia akan memeluk mimpi-mimpimu !
Pengetahuan tidak berarti apa-apa tanpa memperbaharui pemikiran setiap hari (Albert Einstein)
Tampilkan postingan dengan label Gontor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gontor. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Januari 2014
Sabtu, 28 Desember 2013
Re-Check di Kamus !
Biasanya dulu pas masih ngajar di KMI, pagi-pagi sebelum ngajar harus tanqih i'dad di kantor KMI di Gedung Saudi. Persiapan ngajar diperiksa guru senior. Ada beberapa yang berkesan, seperti Ustadz Sutikno yang luwes ngoreksinya. Paling cuma nanya "Ayyu Fashlin ? Ayyu Darsin ? Ayyuwah Jayyid ! Tuallim Jayyidan na'am ?" abis tu beliau ngasih paraf gede banget. Hampir selalu begitu.
Tapi banyak juga yang koreksi detail. Seperti Ustadz Mukhtar. Beliau dulu wali kelas ane pas kelas 6. Emang perfeksionis orangnya. Apalagi kalo soal bahasa. Bisa-bisa i'dad yang disodorin dikritisi n banyak coretannya. Tapi, itulah baiknya munaqqih, buat para mu'allim berusaha perfect. Sampe ke harokatnya malah, wat pelajaran bahasa.
Lagi-lagi, beliau dengan perfeksionisnya, selalu mengingatkan kalo buat i'dad jangan asal. Kata beliau " Haqqiq fil Mu'jam ! Lihat ! Pastikan lagi di kamus ! Apa benar tulisannya begitu ? Huruf, harokat, dan maknanya begitu ?. Pokoknya dahsyat deh !
Tapi banyak juga yang koreksi detail. Seperti Ustadz Mukhtar. Beliau dulu wali kelas ane pas kelas 6. Emang perfeksionis orangnya. Apalagi kalo soal bahasa. Bisa-bisa i'dad yang disodorin dikritisi n banyak coretannya. Tapi, itulah baiknya munaqqih, buat para mu'allim berusaha perfect. Sampe ke harokatnya malah, wat pelajaran bahasa.
Lagi-lagi, beliau dengan perfeksionisnya, selalu mengingatkan kalo buat i'dad jangan asal. Kata beliau " Haqqiq fil Mu'jam ! Lihat ! Pastikan lagi di kamus ! Apa benar tulisannya begitu ? Huruf, harokat, dan maknanya begitu ?. Pokoknya dahsyat deh !
Selasa, 06 Agustus 2013
Naik Kereta Api ke Merak
Waktu menunjukkan pukul 2 lewat 10 menit. Kereta masih
berhenti di Stasiun Rangkasbitung. Masih ada jarak yang harus ditempuh menuju
pemberhentian terakhir di Stasiun Merak.
Perjalanan “mudik” kali ini adalah perjalanan dadakan.
Bayangkan saja keputusan pulang ke kampung adalah putusan yang diambil dalam
waktu singkat dan cepat. Setelah putusan diambil, langsung ayah memesan tiket
kereta via indomaret. Baru tadi pagi jam 10 kami ke Stasiun Lempuyangan untuk
online check in sekaligus menanyakan ketersediaan tempat duduk kereta dari
Merak ke Jogja untuk tanggal 9 Agustus atau H+2 lebaran. Ternyata sudah penuh
semua. Apa boleh buat.
Rencana ke Lampung kali ini adalah untuk menghadap Bapak
Yacob, selaku rektor STAI YASBA Kalianda. Hal ini menyangkut lamaran kerjaku
menjadi asisten dosen di sana. Nah, kedatangan kali ini adalah momentum untuk
menanyakan kejelasan mengenai status saya ke depannya di sekolah tinggi
tersebut.
Karena merupakan sekolah tinggi yang masih dalam taraf kecil
dan baru saja berkembang, lulusan strata 1 macam saya ini masih ada kemungkinan
diterima untuk diperbantukan mengisi beberapa mata kuliah. Apalagi dengan
kualifikasi ilmu tertentu yang jarang ditemui.
Saya bertolak dari Stasiun Lempuyangan pada pukul 11 lewat
40 menit. Di dalam kereta terasa dingin oleh AC yang membuat teriknya siang
jadi tak terasa. PT KAI akhir-akhir ini gencar melakukan perbaikan atas layanan
mereka. Terus berusaha meningkatkan mutu dan kualitas layanan mereka. Bayangkan
saja, untuk kereta api kelas 3 atau kelas ekonomi yang saya naiki ini,
ruangannya ber-AC. Setiap penumpang dipastikan dapat tempat duduk. Kenyamanannya
jelas terasa.
Ini adalah kesekian kalinya saja menggunakan jasa kereta
api. Setelah sebelumnya, pada kali terakhir saya naik kereta api kelas
eksekutif dari Madiun ke Cirebon bersama para asatidz senior pengurus IKPM
Pusat untuk menghadiri acara Silatnas Alumni Gontor di Cirebon setahun silam.
Saya hanya bisa membayangkan, betapa nyamannya menaiki kereta kelas eksekutif
saat ini. Sedangkan kereta kelas ekonomi saja, seperti yang saya naiki sekarang
sudah memenuhi standar kenyamanan. Ber-AC, setiap penumpang pasti dapat tempat
duduk. Sistem masuk ruang tunggu penumpang di stasiun sebelum keberangkatan
turut membantu agar penumpang tidak berjubel, dan dipastikan semua dapat tempat
duduk. Itu setelah menunjukkan selembar tiket dan mencocokkannya dengan KTP
milik penumpang. Nama yang tertera dalam tiket yang dicetak harus sesuai dengan
yang ada dalam KTP. Jadi, walaupun orang yang hendak menjadi penumpang, tetapi
tiketnya dipesankan orang lain, tetap saja nama yang tertera dalam tiket itu haruslah
nama calon penumpang. Bukan nama si pemesan. Kalau tidak, petugas tidak akan
memperbolehkan si pemegang tiket memasuki ruang tunggu penumpang untuk kasus
semacam itu.
Labels:
cirebon,
Gontor,
ikpm,
indomaret,
kereta api,
lempuyangan,
merak,
rangkasbitung,
silatnas,
STAI YASBA
always try to be better
Sabtu, 20 Juli 2013
Sumringah di Yudisium Kelas 6 2013 Dynamic Generation
Tadi pagi saya menghadiri acara yudisium kelas 6. Pondok dipadati para wali santri yang dengan harap cemas menunggu hasil keputusan masing-masing anaknya. Begitu juga saya (wali santri ??hehehe....). Dua adik saya, Muhammad Najib Kaelani dan Muhammad Rosyid Ridho. Keduanya telah melewati perjalanan panjang untuk mencapai momen spesial pagi ini.
Yang paling saya ingat adalah perkataan seorang teman tentang kecilnya kemungkinan mereka berdua untuk naik kelas. Penyebabnya adalah, kelas mereka adlah kelas paling bawah. Ketika itu Najib duduk di kelas 3 Intensif K sedangkan Rosyid di kelas 4 O, yang mana kedua kelas itu adalah kelas yang paling bawah, bisa juga disebut "batas bawah" sebab tidak ada kelas lagi di bawahnya. Kombinasi dari abjad kelas keduanya adalah K dan O sehingga teman saya menyebut bahwa mereka bakalan K.O sesuai abjad kelas mereka. Saya langsung panas, dan menimpali "Baik, saya akan mencoba membantu mereka untuk merubah status K.O menjadi O.K". Dengan segala keterbatasan, tahun itu juga mereka berdua berhasil membuktikan predikat K.O itu salah dengan naiknya mereka ke jenjang kelas 5 KMI. Walaupun harus terpisah jarak, karena Najib dipindah ke Banyuwangi (Darul Muttaqin, Gontor 5). Naik kelas 6, Rosyid juga dipindah ke Kediri ( Gontor 3/Darul Ma'rifat).
Jadi, dengan semua kesulitan yang telah dilewati, suasana pagi ini terasa manis dan indah. Maka saya bersemangat menunggu hasil keputusan walaupun matahari menyengat dan tubuh dibasahi keringat. Saking semangatnya saya sampai mondar-mandir mencari keberadaan dua adik saya itu. Mulai dari duduk di depan BPPM, pemanggilan per gelombang (tapi saya mulai ngikutin baru dari gel.2), sampai tempat pengabdian setelah mereka turun dari Saudi lantai 2, juga saya buntuti.
Hasil dari yudisium menempatkan Rosyid di Pondok alumni di Banten, sedangkan Najib ditempatkan di ISID. Segenap kesyukuran tidak cukup terlukiskan dengan kata-kata. Hanya lantunan do'a terucap dan segenap harap semoga bisa menjadi pejuang muslim yang tangguh. Good Luck my brothers.......
Labels:
Banyuwangi,
BPPM,
Darul Ma'rifat,
Darul Muttaqin,
dynamic generation,
Gontor,
intensif,
Kediri,
yudisium
always try to be better
Langganan:
Postingan (Atom)