Setelah lama mencari ide, akhirnya pada Kamis malam, 14 November 2013 ide itu muncul. Langsung saya tulis di atas kertas dengan ngebut. Sampai jam 1 malam, baru 3/4 naskah. Sedang besok adalah batas waktu pengumpulan. Terlebih terbatasnya fasilitas. Tidak ada komputer. Harus diketik dulu di warnet. Dan waktu mengetiknya juga tidak sebentar.
Maka, esoknya selepas shalat subuh, langsung menyelesaikan 1/4 bagian tersisa. Tidak sebentar, tapi alhamdulillah, bisa selesai juga. Langsung meluncur ke warnet di pasar inpress. Mengetik dengan cepat seperti orang kesetanan. Penjaga warnet sampai geleng-geleng kepala. Lagipula suasana jadi kontras. Sebab layar komputer lainnya menampilkan game online, sementara satu komputer di pojok dengan program Microsoft Word.
Begitu kelar, naskah langsung dikirim ke panitia lomba. Tapi terganjal dengan di masalah registrasi karena lupa membawa KTP. Karena no KTP disyaratkan pada salah satu kolom. Terpaksa harus diurungkan. Dua jam tarif internet harus dibayar tanpa menikmati layanan secara maksimal, kecuali untuk mengirim e-mail.
Ba'da jum'atan, sebelum berangkat mengajar di kampus, mampir sejenak di warnet. Menyelesaikan registrasi, Sukses !. Naskah diterima panitia dan siap dinilai para juri. Tapi tidak yakin bakal lolos nominasi karena kualitas yang seadanya. Sebab dibuat dalam kurun waktu yang sangat singkat. Tanpa editan yan halus.
Benar memang, kreativitas itu butuh waktu. Itulah pentingnya proses. Pola pikir instan sekali-kali tidak mempertimbangkan aspek tersebut. Sebab yang dipikirkan hanyalah hasi akhir. Padahal sebuah hasil tidak akan dicapai tanpa melalui proses.
Walaupun ide datang terlambat, tapi naskah selesai. Juga berhasil dikirimkan, walaupun gagal lolos. Tetap saja, satu kredit poin untuk segi pengalaman bertambah. Tetap semangat !
Pengetahuan tidak berarti apa-apa tanpa memperbaharui pemikiran setiap hari (Albert Einstein)
Tampilkan postingan dengan label agenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agenda. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Desember 2013
Kamis, 18 Juli 2013
Yudisium Pengumuman Kelulusan
Setelah melewati ujian, para peserta tentu menantikan hasil dari perjuangannya. Berhasilkah ? atau sebaliknya tidak ?. Pengumuman kelulusan dari proses ujian adalah sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Sehingga banyak yang menanyakan. Kapan pengumumannya ? Bagaimana proses pengumumannya ?
Tiap lembaga pendidikan punya cara tersendiri untuk mengumumkan hasil tersebut. Namun, cara yang sakral saya temukan di sini. Yudisium. Sebuah agenda yang mengharuskan para peserta bertatap muka dengan pihak yang hendak mengumumkan. Ada tatapan mata, tangkapan suara pada pendengaran, dan debar resah menanti hasil ujian pada agenda ini. Bagaimana tidak, semuanya hadir, berkumpul, ramai, dalam satu tempat, menanti nasib. Berlama-lama, merelakan waktu, mengenyahkan ketidaknyamanan. Dan acara yudisium itu sudah lazim di sini.
Uniknya, walaupun diadakan di depan khalayak ramai tetap saja orang lain tidak tahu menahu hasil ujian seseorang kecuali ia bertanya kepada orang itu dan bersedia menjawabnya. Mengapa bisa begitu ?. Sebab yang diumumkan adalah no peserta ujian, dan kalaupun dalam format yang lebih sakral lagi, dipanggil satu persatu, masing-masing akan diberikan surat keputusan. Jadi yang tahu menahu soal nasibnya adalah dirinya sendiri tanpa perlu diketahui orang lain.
Yudisium memang lebih memberikan kesan mendalam ketimbang pengumuman tanpa perkumpulan. Semisal dengan menempel hasil ujian di etalase sekolah, atau memposting di dunia maya. Tentu saja pendekatan dan tujuan yang ingin dicapai dari tiap metode itu berbeda-beda.
Tiap lembaga pendidikan punya cara tersendiri untuk mengumumkan hasil tersebut. Namun, cara yang sakral saya temukan di sini. Yudisium. Sebuah agenda yang mengharuskan para peserta bertatap muka dengan pihak yang hendak mengumumkan. Ada tatapan mata, tangkapan suara pada pendengaran, dan debar resah menanti hasil ujian pada agenda ini. Bagaimana tidak, semuanya hadir, berkumpul, ramai, dalam satu tempat, menanti nasib. Berlama-lama, merelakan waktu, mengenyahkan ketidaknyamanan. Dan acara yudisium itu sudah lazim di sini.
Uniknya, walaupun diadakan di depan khalayak ramai tetap saja orang lain tidak tahu menahu hasil ujian seseorang kecuali ia bertanya kepada orang itu dan bersedia menjawabnya. Mengapa bisa begitu ?. Sebab yang diumumkan adalah no peserta ujian, dan kalaupun dalam format yang lebih sakral lagi, dipanggil satu persatu, masing-masing akan diberikan surat keputusan. Jadi yang tahu menahu soal nasibnya adalah dirinya sendiri tanpa perlu diketahui orang lain.
Yudisium memang lebih memberikan kesan mendalam ketimbang pengumuman tanpa perkumpulan. Semisal dengan menempel hasil ujian di etalase sekolah, atau memposting di dunia maya. Tentu saja pendekatan dan tujuan yang ingin dicapai dari tiap metode itu berbeda-beda.
Langganan:
Postingan (Atom)