Selasa, 06 Agustus 2013

Naik Kereta Api ke Merak

Waktu menunjukkan pukul 2 lewat 10 menit. Kereta masih berhenti di Stasiun Rangkasbitung. Masih ada jarak yang harus ditempuh menuju pemberhentian terakhir di Stasiun Merak. 

Perjalanan “mudik” kali ini adalah perjalanan dadakan. Bayangkan saja keputusan pulang ke kampung adalah putusan yang diambil dalam waktu singkat dan cepat. Setelah putusan diambil, langsung ayah memesan tiket kereta via indomaret. Baru tadi pagi jam 10 kami ke Stasiun Lempuyangan untuk online check in sekaligus menanyakan ketersediaan tempat duduk kereta dari Merak ke Jogja untuk tanggal 9 Agustus atau H+2 lebaran. Ternyata sudah penuh semua. Apa boleh buat.

Rencana ke Lampung kali ini adalah untuk menghadap Bapak Yacob, selaku rektor STAI YASBA Kalianda. Hal ini menyangkut lamaran kerjaku menjadi asisten dosen di sana. Nah, kedatangan kali ini adalah momentum untuk menanyakan kejelasan mengenai status saya ke depannya di sekolah tinggi tersebut.
Karena merupakan sekolah tinggi yang masih dalam taraf kecil dan baru saja berkembang, lulusan strata 1 macam saya ini masih ada kemungkinan diterima untuk diperbantukan mengisi beberapa mata kuliah. Apalagi dengan kualifikasi ilmu tertentu yang jarang ditemui.

Saya bertolak dari Stasiun Lempuyangan pada pukul 11 lewat 40 menit. Di dalam kereta terasa dingin oleh AC yang membuat teriknya siang jadi tak terasa. PT KAI akhir-akhir ini gencar melakukan perbaikan atas layanan mereka. Terus berusaha meningkatkan mutu dan kualitas layanan mereka. Bayangkan saja, untuk kereta api kelas 3 atau kelas ekonomi yang saya naiki ini, ruangannya ber-AC. Setiap penumpang dipastikan dapat tempat duduk. Kenyamanannya jelas terasa. 

Ini adalah kesekian kalinya saja menggunakan jasa kereta api. Setelah sebelumnya, pada kali terakhir saya naik kereta api kelas eksekutif dari Madiun ke Cirebon bersama para asatidz senior pengurus IKPM Pusat untuk menghadiri acara Silatnas Alumni Gontor di Cirebon setahun silam. Saya hanya bisa membayangkan, betapa nyamannya menaiki kereta kelas eksekutif saat ini. Sedangkan kereta kelas ekonomi saja, seperti yang saya naiki sekarang sudah memenuhi standar kenyamanan. Ber-AC, setiap penumpang pasti dapat tempat duduk. Sistem masuk ruang tunggu penumpang di stasiun sebelum keberangkatan turut membantu agar penumpang tidak berjubel, dan dipastikan semua dapat tempat duduk. Itu setelah menunjukkan selembar tiket dan mencocokkannya dengan KTP milik penumpang. Nama yang tertera dalam tiket yang dicetak harus sesuai dengan yang ada dalam KTP. Jadi, walaupun orang yang hendak menjadi penumpang, tetapi tiketnya dipesankan orang lain, tetap saja nama yang tertera dalam tiket itu haruslah nama calon penumpang. Bukan nama si pemesan. Kalau tidak, petugas tidak akan memperbolehkan si pemegang tiket memasuki ruang tunggu penumpang untuk kasus semacam itu.

1 komentar:

iin herawati mengatakan...

selamat bergabung dengan kami,semoga dengan kehadiran bpk dosen, stai yasba akan trs maju dan berkembang,awalnya bhs inggris adalah pelajaran yg menyebalkan bagi saya ditambah usia dan status sy yg sdh berkeluarga membuat sy berkesimpulan bahwa sy tidak akan prnh bs menguasainya,tapi anda py pola yg berbeda dalam penyampaian materi dan itu membuat sy menyukai bhs inggris,ok good luck sir