Dalam menghafal Al-Qur'an, kita perlu memperhatikan mushaf yang kita gunakan. Biasanya para penghafal Al-Qur'an menggunakan mushaf pojok. Di mana sistem pojokan memungkinkan para penghafal qur'an untuk mengingat bagian pojok dari tiap halaman. Selain itu pembagian juz yang masing-masing terdiri dari 10 lembar atau sama dengan 20 halaman memudahkan penghafal untuk melakukan pembagian dalam tiap proses menghafalnya. Baik itu saat menambah hafalan yang baru atau mengulangi hafalan yang lama.
Setelah seorang penghafal memilih satu mushaf yang dianggap cocok baginya, maka mushaf tersebutlah yang akan terus dipakai hingga selesai menghafal. Dalam arti lain, sangat dianjurkan bagi penghafal qur'an menggunakan satu mushaf saja dalam menghafal. Bila penggunaan mushaf itu dalam waktu yang cukup lama, penghafal qur'an akan terbiasa dengan bentuk tulisan, tata letak halaman, warna, dan segala detail yang khas dari mushaf yang digunakannya.
Sebaliknya bila seorang penghafal bergonta-ganti mushaf dalam proses menghafalnya, dikhawatirkan akan dapat menghambat proses menghafal. Meski tidak menutup kemungkinan ia dapat menyelesaikan hafalannya, tetapi bisa saja prosesnya berjalan lebih lambat dari yang seharusnya ditempuh.
Mengapa demikian ?. Saat seseorang sudah terbiasa membaca satu jenis mushaf, lalu kemudian ia harus menggunakan mushaf lainnya, tidak bisa tidak, ia akan kembali menyesuaikan inderanya ketika menghadapi mushaf yang baru. Sebab mushaf yang baru mempunyai bentuk cetakan yang mungkin berbeda, ukuran huruf dan warna yang tidak sama, bahkan hingga sistem waqaf yang lain dari mushaf sebelumnya.
Pengetahuan tidak berarti apa-apa tanpa memperbaharui pemikiran setiap hari (Albert Einstein)
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Februari 2016
Senin, 01 Februari 2016
Memurnikan Niat dalam Menghafal Qur'an
Dalam setiap tindakan seorang harus selalu melakukannya dengan tulus demi Allah. Terutama saat seorang hamba beribadah. Menghafal Qur'an pun termasuk di dalamnya. Sudah selayaknya seorang yang ingin menghafalkan kalam Ilahi menjalani proses menghafal dengan selalu mengharap rahmat Allah. Sehingga dengan limpahan rahmat-Nya ia akan terus berusaha menjaga niat dan berupaya memperoleh ridha Allah. Kalaulah Allah ridah dengan apa yang ia hafalkan, maka surga pun akan merindunya.
Disamping itu, seorang yang ingin menghafal quran haruslah membersihkan hati dari niat yang bernilai duniawi semata. Semisal menghafal quran untuk lulus ujian. Ataupun menghafal quran untuk pamer dan menyombongkan diri. Semoga kita semua terhindar dari niat semacam itu.
“Allah hanya menerima tindakan yang dimaksudkan murni untuk kesenangan-Nya.” (H.R. An-Nasa’i) Semoga Allah menjaga niat kami murni bagi-Nya.
Disamping itu, seorang yang ingin menghafal quran haruslah membersihkan hati dari niat yang bernilai duniawi semata. Semisal menghafal quran untuk lulus ujian. Ataupun menghafal quran untuk pamer dan menyombongkan diri. Semoga kita semua terhindar dari niat semacam itu.
“Allah hanya menerima tindakan yang dimaksudkan murni untuk kesenangan-Nya.” (H.R. An-Nasa’i) Semoga Allah menjaga niat kami murni bagi-Nya.
Rabu, 11 September 2013
Teror yang Bikin Error
| Almarhum Bripka Sukardi |
Banyak rasa ingin tahu mencuat dari pikiran. Pertanyaan-pertanyaan diiringi dugaan sementara melingkupi kasus ini.
- Mengapa yang diserang polisi ?
- Mengapa di depan kantor KPK ?
- Mengapa, mengapa, dan mengapa ?
Mungkin, para pelaku kejahatan itu bisa menjawabnya. Cepat atau lambat. Tertangkap atau tidak. Bukan hanya pengadilan yang dapat membuat mereka memberikan jawaban, tapi semesta. Ya, semesta selalu punya cara untuk membuat manusia mengakui kekerdilan dan kebodohannya, atas izin Allah.
Semua berharap tidak ada lagi korban berikutnya, meski para pelaku masih saja bergentayangan dan mungkin saja sedang merencanakan tindakan selanjutnya. Semoga kasus ini tidak menyurutkan langkah semua pihak untuk terus bekerja keras. Bahkan menyadarkan para pelaku bahwa, bangsa Indonesia yang setiap hari makan teror (teror apa terong sih ?) sampai otak sering error, tidak bisa dihentikan lajunya dengan secuil tindakan pengecut.
Mungkin kalau bisa dianalogikan dalam sebuah puisi, teror dipersamakan dengan hujan yang menyirami.....
Oh Teror,,,,,,,
Rasa takut yang diberikan,,,,,
Walau teror, aku tetap pergi ke sekolah
Walau teror, ayah tetap pergi ke kantor
Walau teror, ibu tetap pergi ke pasar
walau error ????
Langganan:
Postingan (Atom)