Bila ditelaah lebih dalam, kandungan dalam Al-Qur'an adalah ayat-ayat yang bermakna mulia. Membacanya saja, menghadirkan kedamaian di dalam hati. Terlebih jika mengetahui arti dan memahami maksudnya. Seorang penghafal qur'an tentu akan lebih termotivasi menghafalkannya.
Semisal ia menghafal ayat yang berkenaan dengan surga, maka ia memahami urutan serta alur penjelasan yang disajikan dalam surat tersebut, dan akan bersemangat meneruskan hafalannya. Jadi, erat kaitannya pemahaman dengan hafalan bagi seorang penghafal Al-Qur'an. Pemahaman yang baik terhadap suatu ayat dapat memberi pengaruh yang besar dalam proses menghafal. Bahkan bisa dikatakan bila seseorang ingin menghafal Al-Qur'an dengan memahaminya terlebih dahulu, ia telah menempuh setengah jalan.
Pengetahuan tidak berarti apa-apa tanpa memperbaharui pemikiran setiap hari (Albert Einstein)
Tampilkan postingan dengan label penghafal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penghafal. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Februari 2016
Selasa, 09 Februari 2016
Memulai Hafalan Al-Qur'an dengan Perlahan
Seorang penghafal Al-Qur'an yang baru saja memulai programnya umumnya memiliki semangat yang besar untuk menjalani proses menghafal. Semangat dalam menghafal sangat menentukan keberhasilan seorang penghafal Qur'an. Namun yang terpenting adalah kemampuan seorang penghafal Qur'an untuk terus menjaga semangatnya. Sebab seringkali di tengah jalan banyak godaan yang memalingkan diri dari tujuan dan menggoyahkan semangat.
Sikap istiqomah sangat perlu dimiliki oleh seorang penghafal Qur'an. Lebih-lebih pada saat-saat sulit. Sangat disayangkan bilamana di awal perjalanan menghafal qur'an, seorang pelajar meletup-letup semangatnya, lalu pada akhirnya harus berhenti di tengah jalan karena tidak istiqomah.
Maka di awal perjalanan hendaknya memulai hafalan qur'an dengan perlahan. Tidak perlu berambisi untuk menempuh hafalan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Sebab beban yang terlalu berat akan memutus semangat dan menghentikan perjalanan sebelum sampai ke ujungnya.
Sikap istiqomah sangat perlu dimiliki oleh seorang penghafal Qur'an. Lebih-lebih pada saat-saat sulit. Sangat disayangkan bilamana di awal perjalanan menghafal qur'an, seorang pelajar meletup-letup semangatnya, lalu pada akhirnya harus berhenti di tengah jalan karena tidak istiqomah.
Maka di awal perjalanan hendaknya memulai hafalan qur'an dengan perlahan. Tidak perlu berambisi untuk menempuh hafalan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat. Sebab beban yang terlalu berat akan memutus semangat dan menghentikan perjalanan sebelum sampai ke ujungnya.
Sabtu, 06 Februari 2016
Teknik Dasar Menghafal Al-Qur'an : Pengulangan dan Pembagian
Bagaimana seseorang dapat menghafal Al-Qur'an ?. Inti dasar dari proses menguasai hafalan itu sendiri adalah mengulang-ulang bacaan yang hendak dihafal. Semakin banyak diulang, akan semakin kuat hafalannya. Semisal kita akan menghafalkan ayat pertama dari Surah Al-Alaq, kita cukup membacanya secara berulang-ulang. Setelah menyelesaikan beberapa kali pengulangan biasanya para penghafal qur'an akan dapat menguasai ayat tersebut dan sukses menghafalkannya. Tetapi jumlah pengulangan bacaan untuk dapat menguasai hafalan tidak sama antara penghafal yang satu dengan yang lain. Perbedaan jumlah pengulangan bacaan yang dibutuhkan bergantung pada kekuatan memori masing-masing penghafal.
Bila seorang penghafal memiliki daya nalar yang kuat, makin sedikit jumlah pengulangan yang dibutuhkan untuk sampai kepada penguasaan hafalan. Sebaliknya bila daya nalarnya masih lemah, maka tentu membutuhkan banyak pengulangan agar dapat menguasai hafalan. Maka tidak dapat disamaratakan jumlah pengulangan bacaan bagai semua penghafal. Yang mungkin dilakukan adalah menetapkan jumlah baku di setiap tingkat kekuatan memori.
Saat pengulangan ayat demi ayat telah dimulai, penghafal perlu juga melakukan pembagian halaman atau surat yang akan dihafal menjadi beberapa bagian. Hal itu untuk memudahkan hafalan menemukan tempatnya di dalam pikiran manusia. Sebab pembagian itu dapat diibaratkan menyediakan kamar-kamar di dialam otak kita untuk diletakkan di dalamnya ayat-ayat Al-Qur'an yang dihafal.
Bila seorang penghafal memiliki daya nalar yang kuat, makin sedikit jumlah pengulangan yang dibutuhkan untuk sampai kepada penguasaan hafalan. Sebaliknya bila daya nalarnya masih lemah, maka tentu membutuhkan banyak pengulangan agar dapat menguasai hafalan. Maka tidak dapat disamaratakan jumlah pengulangan bacaan bagai semua penghafal. Yang mungkin dilakukan adalah menetapkan jumlah baku di setiap tingkat kekuatan memori.
Saat pengulangan ayat demi ayat telah dimulai, penghafal perlu juga melakukan pembagian halaman atau surat yang akan dihafal menjadi beberapa bagian. Hal itu untuk memudahkan hafalan menemukan tempatnya di dalam pikiran manusia. Sebab pembagian itu dapat diibaratkan menyediakan kamar-kamar di dialam otak kita untuk diletakkan di dalamnya ayat-ayat Al-Qur'an yang dihafal.
Jumat, 05 Februari 2016
Mendengarkan Bacaan Al-Qur'an
Saat ini telah banyak beredar file-file suara murottal dari syeikh-syeikh terkemuka. Bila seorang penghafal Al-Qur'an membutuhkan media yang dapat membantu dalam upaya memudahkan proses menghafal, maka mendengarkan bacaan Al-Qur'an adalah salah satunya.
Kita dapat memilih salah satu corak murottal yang dilantunkan oleh seorang syeikh untuk kita dengarkan. Dengan mendengarkan bacaan tersebut, otak kita akan mendapatkan asupan yang baik untuk menghafal Al-Qur'an. Semisal anda hendak menghafal Surah Ar-Rahman, lalu anda mendengarkan bacaan murottal syeikh Sudais di bagian Surah Ar-Rahman, maka suara syeikh Sudais yang terus menerus didengarkan akan terngiang dalam ingatan. Dan ketika proses menghafal dimulai, ayat-ayat yang akan dihafal terasa familiar walaupun belum pernah dibaca sama sekali. Hal itu dikarenakan otak telah lebih dahulu merekam suara lantunan ayat tersebut.
Kebiasaan mendengarkan murottal akan sangat membantu dalam proses menghafal Al-Qur'an. Maka seorang penghafal qur'an hendaknya membiasakan diri untuk mendengarkan murottal. Jikalau hal tersebut dilakukan, bukan mustahil kalam Ilahi dapat dengan mudah meresap dalam hati.
Kita dapat memilih salah satu corak murottal yang dilantunkan oleh seorang syeikh untuk kita dengarkan. Dengan mendengarkan bacaan tersebut, otak kita akan mendapatkan asupan yang baik untuk menghafal Al-Qur'an. Semisal anda hendak menghafal Surah Ar-Rahman, lalu anda mendengarkan bacaan murottal syeikh Sudais di bagian Surah Ar-Rahman, maka suara syeikh Sudais yang terus menerus didengarkan akan terngiang dalam ingatan. Dan ketika proses menghafal dimulai, ayat-ayat yang akan dihafal terasa familiar walaupun belum pernah dibaca sama sekali. Hal itu dikarenakan otak telah lebih dahulu merekam suara lantunan ayat tersebut.
Kebiasaan mendengarkan murottal akan sangat membantu dalam proses menghafal Al-Qur'an. Maka seorang penghafal qur'an hendaknya membiasakan diri untuk mendengarkan murottal. Jikalau hal tersebut dilakukan, bukan mustahil kalam Ilahi dapat dengan mudah meresap dalam hati.
Rabu, 03 Februari 2016
Menggunakan Satu Mushaf dalam Menghafal Qur'an
Dalam menghafal Al-Qur'an, kita perlu memperhatikan mushaf yang kita gunakan. Biasanya para penghafal Al-Qur'an menggunakan mushaf pojok. Di mana sistem pojokan memungkinkan para penghafal qur'an untuk mengingat bagian pojok dari tiap halaman. Selain itu pembagian juz yang masing-masing terdiri dari 10 lembar atau sama dengan 20 halaman memudahkan penghafal untuk melakukan pembagian dalam tiap proses menghafalnya. Baik itu saat menambah hafalan yang baru atau mengulangi hafalan yang lama.
Setelah seorang penghafal memilih satu mushaf yang dianggap cocok baginya, maka mushaf tersebutlah yang akan terus dipakai hingga selesai menghafal. Dalam arti lain, sangat dianjurkan bagi penghafal qur'an menggunakan satu mushaf saja dalam menghafal. Bila penggunaan mushaf itu dalam waktu yang cukup lama, penghafal qur'an akan terbiasa dengan bentuk tulisan, tata letak halaman, warna, dan segala detail yang khas dari mushaf yang digunakannya.
Sebaliknya bila seorang penghafal bergonta-ganti mushaf dalam proses menghafalnya, dikhawatirkan akan dapat menghambat proses menghafal. Meski tidak menutup kemungkinan ia dapat menyelesaikan hafalannya, tetapi bisa saja prosesnya berjalan lebih lambat dari yang seharusnya ditempuh.
Mengapa demikian ?. Saat seseorang sudah terbiasa membaca satu jenis mushaf, lalu kemudian ia harus menggunakan mushaf lainnya, tidak bisa tidak, ia akan kembali menyesuaikan inderanya ketika menghadapi mushaf yang baru. Sebab mushaf yang baru mempunyai bentuk cetakan yang mungkin berbeda, ukuran huruf dan warna yang tidak sama, bahkan hingga sistem waqaf yang lain dari mushaf sebelumnya.
Setelah seorang penghafal memilih satu mushaf yang dianggap cocok baginya, maka mushaf tersebutlah yang akan terus dipakai hingga selesai menghafal. Dalam arti lain, sangat dianjurkan bagi penghafal qur'an menggunakan satu mushaf saja dalam menghafal. Bila penggunaan mushaf itu dalam waktu yang cukup lama, penghafal qur'an akan terbiasa dengan bentuk tulisan, tata letak halaman, warna, dan segala detail yang khas dari mushaf yang digunakannya.
Sebaliknya bila seorang penghafal bergonta-ganti mushaf dalam proses menghafalnya, dikhawatirkan akan dapat menghambat proses menghafal. Meski tidak menutup kemungkinan ia dapat menyelesaikan hafalannya, tetapi bisa saja prosesnya berjalan lebih lambat dari yang seharusnya ditempuh.
Mengapa demikian ?. Saat seseorang sudah terbiasa membaca satu jenis mushaf, lalu kemudian ia harus menggunakan mushaf lainnya, tidak bisa tidak, ia akan kembali menyesuaikan inderanya ketika menghadapi mushaf yang baru. Sebab mushaf yang baru mempunyai bentuk cetakan yang mungkin berbeda, ukuran huruf dan warna yang tidak sama, bahkan hingga sistem waqaf yang lain dari mushaf sebelumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)